Kerukunan Umat Beragama di Desa Minoritas

Kerukunan Umat Beragama di Desa Minoritas

26/05/2018 0 By Redaktur 1

BALIGE | Masjid Al-Muttaqin tepatnya di Lumban Gurning, Kecamatan Porsea, Kabupaten Toba Samosir. Mesjid tersebut berdiri sejak tahun 1315 H/1898 M, di tengah-tengah kaum mayoritas Nasrani, namun azan tak pernah berhenti berkumandang seperti biasanya.

Masjid tersebut, dibangun secara bertahap oleh petua setempat yang dikomandoi Lobe Kalang Gurning dan keluarganya, tanpa bantuan dana dari pihak ketiga.

Imran Sitorus (46), Badan Kenaziran Masjid BKN) Al-Muttaqin Lumban Gurning Porsea, mengatakan, masjid ini didirikan oleh leluhurnya pada tahun 1898 silam.

Dikatakannya, ajaran Islam masuk ke daerah tersebut dibawa oleh Lobe Kalang Gurning. Menurut sejarah, Lobe Kalang Gurning menerima ajaran Islam dari para Mubalig di Tanjung Balai, Asahan.

Almarhum Lobe Kalang Gurning keluar masuk Porsea-Tanjung Balai Asahan berjalan kaki melintasi hutan belantara yang dipenuhi lembah dan bukit. Pergi ke Tanjung Balai mengambil Garam (Sira) untuk dibawa pulang dan dipasarkan.

“Ketika itu (kakek/oppung) itu berdagang dan mengambil garam atau dikenal sebagai ‘Pangallung Sira’ dari Tanjung Balai Asahan. Selain ke Tanjung Balai, Oppung dulu belajar Islam ke pesantren tertua di Purba Baru yang saat ini menjadi Kabupaten Mandailing Natal- Sumatera Utara. Sambil berdagang, ilmu keagamaan dia perdalam, selanjutnya dibawa pulang ke Lumban Gurning Porsea,” tuturnya.

Melihat perkembangan pengikut, lanjutnya, leluhur mereka sepakat membebaskan sebidang tanah untuk wakaf dan bangunan madrasah serta bangunan fasilitas lainya.

“Awalnya masjid dibangun dari kayu, sedangkan renovasi berjalan seiring perkembangan zaman juga kemampuan dana. Khas unik yang dimiliki jamaah masjid tersebut adalah masak bersama setiap hari sabtu pada bulan puasa,” katanya.

Menurutnya, seluruh jamaah menyediakan kebutuhan berbuka puasa dan masak bersama di Mesjid untuk kebutuhan berbuka puasa bersama. Jamaah masjid tersebut sebanyak 70 kepala keluarga (KK), 100% bersuku Batak.

Budaya kebersamaan dipertahankan sebagai bentuk keluargaan serta budaya gotong royong yang masih kental. Hubungan silaturahmi lintas agama masih kental di daerah itu, saling sapa dan saling berkunjung padahari besar keagamaan, seperti Tahun Baru dan Hari Raya Idul Fitri.

Pada hari raya Idul Fitri, kaum muslim berkunjung ke rumah kaum nasrani, pada Tahun Baru kaum Nasrani berkunjung ke rumah kaum Muslim. (Mariana Hutagalung)