NSHE Fasilitasi Breeder Ikan Jurung Tingkatkan Soft Skill

16/08/2018 0 By Redaktur 1

TAPSEL I Pelestarian biodiversitas atau keanekaragaman hayati merupakan bagian dari komitmen PT. North Sumatera Hydro Energi (NSHE) selaku pengelola proyek PLTA Batangtoru di Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) dalam menjaga lingkungan.
Komitmen tersebut salah satunya diwujudkan PLTA Batangtoru dengan pembinaan budidaya ikan Jurung kepada masyarakat yang ada di hilir sungai Batangtoru.
Dalam mensukseskan program tersebut, PLTA Batangtoru memfasilitasi Marihot Anton Sihombing, seorang breeder (pembudidaya) ikan Jurung atau familiar dikenal ikan Mera, mengikuti pelatihan di Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar dan Penyuluh Perikanan Bogor, pertengahan Maret 2018 lalu. Pelatihan tentang tekhnologi Hatchery Indoor dalam budidaya ikan air tawar.
Karena, Marihot yang sekitar 15 tahun ini telah sukses membudidayakan ikan yang bernilai jual tinggi di Desa Padang Lancat Sisoma, Kecamatan Batangtoru tersebut melakukannya masih secara tradisional.
Meski secara tradisional, ketekunan Marihot telah berhasil menjawab akan anggapan selama ini, kalau ikan Jurung seperti ikan Salmon, berpijah di hulu.
“Artinya, ikan Jurung dapat dibudidayakan dengan menciptakan iklim atau suasana seperti di habitat alaminya,” ucap DR Agus Djoko Ismanto, perwakilan PLTA Batangtoru kepada wartawan, pekan lalu.
Dikatakan DR Agus, dalam meningkatkan produksi pada fase pemijahan, Marihot dilatih memanfaatkan tekhnologi Hatchery Indoor. Tujuannya, agar produksinya lebih tinggi, karena dapat menekan faktor-faktor penyebab mortalitas (tingkat kematian) telur.
Selama ini di kediamannya di Desa Padang Lancat Sisoma, ada 8 kolam untuk budidaya ikan Jurung, disamping kolam lain untuk jenis ikan lainnya. Budidaya tekhnik sederhana, yaitu memanfaatkan aliran dan debit air, tanpa menggunakan aliran listrik ataupun tekhnologi.
Diutarakan Agus, tingkat keberhasilan pemijahan secara manual yang dilakukan selama ini baru sekitar 30 persen dari telur yang dihasilkan. Namun, dengan menggunakan tekhnologi Hatchery Indoor, tingkat keberhasilannya dapat mencapai 95 persen.
Dijelaskannya, tingkat keberhasilan bisa tinggi dipengaruhi oleh pengaturan suhu yang stabil, tidak adanya predator, dengan mortalitas hanya 5 persen.
“Dengan adanya kerjasama peningkatan soft skill ini diharapkan dapat membantu melestarikan dan memperbanyak ikan Jurung di daerah ini,” tutur Agus.
Ikan Jurung merupakan ikan yang menjadi primadona bagi masyarakat Batak, apalagi nilai jualnya tergolong tinggi. Dimana dahulunya, ikan ini digunakan untuk acara-acara adat dan hanya disajikan dan boleh dinikmati untuk raja-raja. (Borneo)