PLTA Batangtoru untuk Anak Cucu Kedepan

PLTA Batangtoru untuk Anak Cucu Kedepan

23/09/2018 0 By Redaktur 1

TAPSEL I Ketua Komisi VII DPR RI, Gus Irawan Pasaribu SE.Ak MM menilai, pembangunan PLTA Batangtoru di Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) disamping irit lahan, juga ramah lingkungan.
Penilaian Gus Irawan tersebut setelah mendapatkan pemaparan dari PT. North Sumatera Hydro Energy (NSHE), pengelola pembangunan PLTA Batangtoru serta pihak lainnya pada kunjungan USU dan Pemkab Tapsel serta stake holder lainnya ke lokasi pembangunan PLTA Batangtoru berkapasitas 510 Mega Watt (MW) tersebut, Kamis (20/9) lalu.
Dikatakan Gus Irawan, usai dirinya bersama rombongan meninjau rencana lokasi power house (di Kecamatan Marancar) dan rencana lokasi kolam genangan air (di Kecamatan Sipirok), yang nantinya air dialirkan melalui terowongan untuk memutar turbin, ternyata tidak memakai areal yang begitu luas.
“Kita sudah saksikan dan dapat keterangan pihak PT. NSHE, hanya butuh sekitar 90 hektar lahan dengan rincian, 24 hektar sudah tersedia secara alami dan sisanya sekitar 60-an hektar imbas genangan air. Dan PLTA sangat ramah lingkungan,” ucap Gus Irawan.
Menurut wakil rakyat asal Dapil Sumut II yang juga mencakup wilayah Tabagsel ini, PLTA Batangtoru untuk kebutuhan jangka panjang dan menjawab krisis listrik Sumatera Utara (Sumut), bahkan Sumatera pada beban puncak.
Diutarakannya, keberadaan PLTA Batangtoru nantinya bisa menghemat APBN bila dikonversi terhadap kontrak Marine Vessel Power Plant (MVPP), sebuah kapal pembangkit listrik asal Turki, berbiaya dengan kurs saat ini sekitar Rp5-Rp6 triliun per tahun.
Selaku wakil rakyat yang terdepan mendorong pemerintah untuk mendatangkan kapal tersebut ke Belawan, pungkasnya, MVPP tersebut sifatnya hanya jangka pendek dengan kontrak 5 tahun.
“Sedangkan PLTA untuk anak cucu kita kedepan,” pungkasnya.
Sementara, Direktur Pengendalian Kerusakan Perairan Darat (PKPD) Kementerian LHK, Sakti H. Harahap mengatakan, saat ini, kelestarian lingkungan dengan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) tidak perlu lagi dipertentangkan.
“Jadi sebenarnya, filosofinya sekarang boleh tapi dengan syarat, karena sustainable development itu adalah pembangunan yang seimbang dengan ekologi lingkungan sosial dan ekonomi,” ucap Sakti H. Harahap usai meninjau lokasi pembangunan PLTA Batangtoru, Kamis (20/9) lalu.
Direktur PKPD LHK turut serta meninjau lokasi PLTA Batangtoru bersama Ketua Komisi VII DPR RI, Gus Irawan Pasaribu, Bupati Tapsel, H. Syahrul M. Pasaribu SH dan jajaran, Rektor USU, Prof Dr Runtung SH MHum bersama Wakil Rektor I, Dr Harmein Nasution, Dekan Fakultas Kehutanan, Siti Latifah, Dekan Fakultas Tekhnik, Seri Maulina, Dekan Fakultas Hukum, Budiman Ginting, Ketua Prodi Tekhnik Lingkungan, Ketua Majelis Wali Amanat USU, H. Panusunan Pasaribu, Racmat Fajar Lubis dan Dwi Mukti Puspitaningtyas dari LIPI, Adi Susmianto dari Pusdiklat LHK, Adriani Siahaan dan Irzal dari Forum DAS, W. Kuswandi dari Balitbang LHK Aek Nauli.
Sakti mengatakan bahwa hutan merupakan reservoir alami, reservoir alami raksasa menyimpan air di hulu agar mengalir konstan.
“Karena kooperatif, kita ajak PT. NSHE untuk bersama-sama dengan pemerintah, menjaga agar suplai air itu seperti sekarang ini. Tidak mungkin perusahaan mengorbankan usahanya yang sekian triliun. Sekarang ini kita jalani dulu tahap korektif, nantinya kita kembangkan bersama-sama,” sebutnya. (Borneo)