Tahap Awal, PT. NSHE Tanam 1.400 Bibit Pohon Beragam Jenis

Tahap Awal, PT. NSHE Tanam 1.400 Bibit Pohon Beragam Jenis

17/10/2018 0 By Redaktur 1

TAPSEL I Tahap awal, 1.400 batang bibit buah dan kayu beragam jenis mulai ditanam PT. North Sumatera Hydro Energy (NSHE), pengelola pembangunan PLTA Batangtoru di lanskap Batangtoru.
Penanaman perdana dimulai pada Demplot Model Kolaborasi Pengayaan Tanaman Multifungsi pada Koridor Satwa Bulu Mario di Lanskap Batangtoru, di Desa Bulu Mario, Kecamatan Sipirok, Senin (14/10) lalu.
Penanaman beragam jenis tanaman multifungsi tersebut sebagai bagian komitmen PT. NSHE untuk tetap menjaga kelestarian ekosistem Batangtoru, lokasi pembangunan PLTA Batangtoru yang irit lahan dan ramah lingkungan tersebut.
Mara Uluan Munthe, tokoh masyarakat Desa Bulu Mario menyampaikan bahwa warga optimis kepemimpinan Bupati Tapsel, H. Syahul M. Pasaribu SH akan sanggup melaksanakan program pembangunan yang akan mengangkat harkat dan martabat Tapsel, khususnya masyarakat Bulu Mario.
“Mari kita dukung Bupati dalam membangun Tapsel,” ajaknya.
Pada kesempatan itu, Mara Uluan juga menghimbau masyarakat untuk bersama-sama menjaga program pembangunan pemerintah, termasuk program pembangunan PLTA Batangtoru.
Muhammad Munir, Komisaris PT. NSHE dalam sambutannya menyampaikan ucapan terima kasih kepada masyarakat dan stake holder lainnya, khususnya masyarakat sekitar pembangunan PLTA Batangtoru atas dukungan dan partisipasinya akan program PLTA Batangtoru.
Dikatakan Munir, peran Pemerintah Daerah (Pemda), stake holder dan masyarakat sangat membantu dalam percepatan pembangunan PLTA, yang selalu memberikan nasehat dan bimbingan agar tetap konsen terhadap lingkungan.
Diutarakannya, pembangunan PLTA Batangtoru merupakan turunan dari program pemerintah dalam pengembangan energi baru terbarukan 23 persen di tahun 2025.
“Dan PLTA Batangtoru ikut berkontribusi dalam mensukseskan program pemerintah tersebut,” ucap Munir.
Pada kesempatan itu, Munir menyebutkan, pola kerja PLTA nantinya adalah mengalirkan air Batangtoru untuk memutar turbin, lalu air tersebut dialirkan kembali ke sungai Batangtoru. Pola kerja yang juga mendukung biodiversity di hilir sungai.
“Potensi alam kami manfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan,” sebutnya.
Diterangkannya, berdasarkan data-data yang ada bahwa di ekosistem Batangtoru terdapat satwa-satwa langka yang dilindungi, khususnya Pongo Tapanuliensis.
“Dan kami konsisten menjaga kelestarian satwa langka tersebut,” tegas Munir.
Kegiatan tersebut, pungkas Munir, merupakan bagian komitmen dalam mendukung kelestarian satwa langka Pongo Tapanuliensis.
Munir menerangkan, pembangunan PLTA Batangtoru baru sekitar 7 persen, pembangunan di akses jalan. “Pembangunan secara umum belum, dibutuhkan 4 tahun. Untuk itu kami membutuhkan dukungan semua pihak dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat, mensukseskan program pemerintah dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan Batangtoru,” tuturnya.
Pratiara SHut MSi, Kepala Balai Litbang Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Aek Nauli dalam sambutannya menyampaikan, ekosistem Batangtoru memiliki satwa yang “seksi” sekali, yaitu Pongo Tapanuliensis, satwa orangutan yang berbeda dengan daerah lain.
Sejak 2003 hingga saat ini, terang Pratiara, pihaknya konsen meneliti keberadaan Pongo Tapanuliensis.
“Sebelum orangutan Tapanuli launching, kita sudah terlebih dahulu membukukan orangutan Batangtoru,” ucapnya.
Keberadaan Pongo Tapanuliensis, pungkasnya, terhubung antara koridor habitat satwa di lanskap Batangtoru.
Sementara Bupati Tapsel, H. Syahrul M. Pasaribu SH menyambut baik penanaman beragam jenis tanaman buah dan kayu oleh PT. NSHE di lanskap Batangtoru tersebut.
Hal itu, ucap Bupati, sebagai bagian dari program pelestarian ekosistem Batangtoru, dan juga menyahuti saran Kementerian LHK.
Ditegaskan Bupati, dalam pelestarian ekosistem Batangtoru, sudah menjadi komitmen Pemkab bersama masyarakat, ada atau tidak adanya Pongo Tapanuliensis.
Diceritakan Bupati, meski lokasi pembangunan PLTA Batangtoru berada di Areal Penggunaan Lain (APL), namun sejak dahulunya leluhur masyarakat daerah setempat menyadari bahwa air merupakan sumber kehidupan.
Seperti di Kecamatan Marancar sendiri masih sangat kental dengan local wisthem (kearifan lokal) masyarakatnya, yang dikenal dengan istilah Hatabosi (Haonatas, Tanjung Rompa, Bonan Dolok dan Siranap). Kearifan lokal yang erat kaitannya dalam menjaga kelestarian lingkungan.
“Bahkan beberapa tahun lalu desa-desa di daerah tersebut telah menerbitkan Peraturan Desa yang intinya tentang pelestarian lingkungan, di ilhami local wisthem Hatabosi,” ucap Bupati.
Dihadapan undangan dan masyarakat juga, Bupati mengutarakan kalau dirinya kerap melewati jalur Sipirok-Marancar, menghimbau dan mengingatkan masyarakat untuk tidak sembarangan menebang pohon meski berada di APL, kalau tidak penting.
Kemudian dalam bertani, Bupati mengajak masyarakat untuk tidak melakukan ekspansi, tapi lebih pada melakukan intensifikasi terhadap lahan pertaniannya yang belum terkelola secara maksimal.
Tidak lupa ia juga mengajak seluruh pihak untuk melihat program pembangunan di lanskap Batangtoru secara menyeluruh dan konprehensif, tidak hanya dari satu atau dua sudut pandang saja.
Pemkab Tapsel, pungkasnya, wellcome terhadap investasi, mengelola sumber daya alam Tapsel, dengan syarat tetap menjaga kelestarian lingkungan.
Pada kesempatan itu juga, Bupati mengajak seluruh stake holder dan masyarakat untuk berkolaborasi secara menyeluruh, sehingga PLTA dapat terbangun dan Pongo Tapanuliensis serta ekosistem Batangtoru tetap terlestarikan.
Penanaman perdana tersebut ditandai dengan pembukaan selubung plang Demplot Model Kolaborasi Pengayaan Tanaman Multifungsi pada Koridor Satwa Bulu Mario di Lanskap Batangtoru oleh Bupati bersama Komisaris PT. NSHE, Muhammad Munir, Kepala Balitbang KLHK Aek Nauli, Pratiara, Direktur PT. NSHE, Sarimuddin Siregar, Ir Luhut Sihombing MSP dari Forum Daerah Aliran Sungai (DAS) Sumut, Dekan Fakultas Kehutanan USU, Siti Latifah SHut MSi PhD.
Usai pembukaan selubung plang demplot, Bupati bersama Wakil Bupati (Wabup) Tapsel, Ir Aswin Efendi Siregar MM, Sekdakab Tapsel, Drs Parulian Nasution MM, Komisaris dan Direktur PT. NSHE, sejumlah pimpinan OPD serta undangan lainnya melakukan penanaman bibit pohon beragam jenis baik itu durian, manggis, matoa, aren, rambutan, kayu meranti dan lain sebagainya.
Hadir pada acara tersebut Bupati, Wabup dan Sekdakab Tapsel, Komisaris dan Direktur PT. NSHE, Muhammad Munir dan Sarimuddin Siregar, Luhut Sihombing dari Forum DAS Sumut yang juga menjabat Wakil Rektor V USU, Dekan Fakultas Kehutanan USU, Siti Fadilah, Kepala Balitbang KLHK Aek Nauli, Pratiara, Kepala Bidang KSDA Wilayah III Padangsidimpuan, Gunawan Alza SHut, Ketua Wali Amanat USU, Panusunan Pasaribu, mewakili pimpinan sejumlah Perguruan Tinggi (PT) di Padangsidimpuan, dari Forum DAS Batangtoru, sejumlah pimpinan OPD Tapsel, Camat Sipirok, tokoh agama, tokoh masyarakat dan NNB Bulu Mario, serta undangan lainnya. (Borneo)