Lomba Barista, Implementasi Awal Pasca Terbitnya Sertifikat IG Kopi Arabika Sipirok

Lomba Barista, Implementasi Awal Pasca Terbitnya Sertifikat IG Kopi Arabika Sipirok

24/11/2018 0 By Redaktur 3

TAPSEL | Lomba Barista Kopi Arabika Sipirok pada moment pameran pembangunan dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) ke-68 Tahun 2018, merupakan implementasi terhadap terbitnya Indikasi Geografis (IG) Kopi Arabika Sipirok, Kabupaten Tapsel dari Kementerian Hukum dan Hak Azasi Manusia (Kemenkum dan HAM) Republik Indonesia (RI).

Terbitnya sertifikat IG Kopi Arabika Sipirok yang dimotori PT. North Sumatera Hydro Energy (NSHE), pengelola PLTA Batangtoru ini menjadi babak baru bagi perkebunan dan produk kopi Arabika di Tapsel.

Disampaikan Sekretaris Daerah Kabupaten (Sekdakab) Tapsel, Drs H. Parulian Nasution MM pada lomba yang digelar Kamis (22/11) lalu, bertempat di lapangan Sarasi II, Bintuju, Kecamatan Angkola Muaratais, lomba tersebut merupakan implementasi awal setelah Kemenkum dan HAM melalui Dirjen kekayaan Intelektual menerbitkan sertifikat IG Kopi Arabika Sipirok.

”Momentum ulang tahun Pemkab Tapsel ini dijadikan sebagai salah satu ajang untuk promosi kopi Arabika Sipirok setelah sertifikat IG tersebut terbit,” ucap Sekdakab.

Dikatakan Sekdakab, pada lomba, kopi yang diracik peserta merupakan kopi Arabika Sipirok yang telah disediakan panitia, dan tidak diperkenankan membawa kopi Arabika dari daerah lain.

Ia menyampaikan ucapan terimakasih kepada seluruh komponen yang sudah membantu terbitnya sertifikat IG Kopi Arabika Sipirok tersebut. Lomba Barista Kopi Arabika Sipirok tersebut ternyata menjadi daya tarik tersendiri bagi peracik dan penikmat kopi. Puluhan barista dari berbagai daerah baik dari Kota Padangsidimpuan, Kota Sibolga, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Kota Medan, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) datang ikut ambil bagian dalam event perdana yang digelar setelah kopi Arabika Sipirok resmi mengantongi sertifikat IG.

Antusias masyarakat juga begitu tinggi menyaksikan keahlian masing-masing peserta dalam meracik kopi. Apalagi para barista diberi waktu tertentu dalam menyelesaikan racikannya, sebelum di cicipi dan dinilai tiga orang dewan juri berkompetensi dari Medan.

Ketua Dewan Juri Agustinus menyebutkan, lomba tersebut dikategorikan pada playing test. Artinya, para juri tidak melihat peserta, namun hanya merasakan racikan kopinya.

Beragam aspek yang menjadi penilaian dewan juri, terang Agustinus, semisal balance, menyangkut flavour, after taste, acidity, dan lainnya. Bila salah satu dari aspeknya kurang atau lebih, akan membuat nilai balancenya berkurang.

Acidity, pungkasnya, sering digambarkan sebagai rasa asam yang enak atau masam tidak enak. Acidity yang baik akan terasa manis seperti rasa buah segar, yang langsung terasa ketika kopi diseruput.

Kemudian, aspek flavour yang merupakan kombinasi antara aroma, acidity dan after taste, juga menjadi salah satu penilaian juri. (Borneo)