SK AMDAL PLTA Batangtoru Sesuai Hukum dan Peraturan

21/02/2019 0 By Redaktur 3

SK AMDAL PLTA Batangtoru Sesuai Hukum dan Peraturan

 

TAPSEL | PT. North Sumatera Hydro Energy (NSHE) telah melakukan semua kajian baik standar nasional maupun internasional untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batangtoru 510 Megawatt (MW) di Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Propinsi Sumatera Utara (Sumut).

“Jadi, penerbitan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) PLTA Batangtoru sama sekali tidak bertentangan dengan hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” ucap Senior Executive for External Relations PT. NSHE, Firman Taufick dalam press releasenya yang diterima Rakyat, Selasa (19/2/2019).

Disampaikan Firman Taufick, PLTA Batangtoru berkapasitas 510 MW merupakan salah satu dari pelaksanaan program strategis nasional untuk mencapai target pembangunan pembangkit listrik 35.000 MW di Indonesia. PLTA Batangtoru merupakan pembangkit energi terbarukan yang ramah lingkungan dan ditargetkan mulai beroperasi pada tahun 2022.

Dikatakan Firman, pembangunan PLTA Batangtoru telah memiliki Surat Keputusan (SK) AMDAL yaitu SK Gubernur Sumatera Utara Nomor 660 tertanggal  31 Januari 2015. SK tersebut sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang (UU) Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, serta Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, dan PP Nomor 27 Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan.

Menurut Firman, penerbitan AMDAL tersebut juga telah memenuhi persyaratan-persyaratan permohonan izin lingkungan yang meliputi Dokumen AMDAL yang telah disahkan, Dokumen Pendirian Usaha, dan profil usaha.

Selain itu, pungkas Firman, PLTA Batangtoru merupakan proyek energi terbarukan yang lebih bersih dan berkelanjutan. Proyek ini merupakan bagian dari pengurangan emisi karbon nasional sehingga berkontribusi mengatasi perubahan iklim.

“Ini sebagai langkah konkrit implementasi Komitmen Paris yang telah diratifikasi pemerintah Indonesia. Proyek akan memberikan kontribusi pengurangan emisi karbon sebesar 1,6 – 2,2 MTon/tahun atau sebesar 4% dari target nasional,” pungkas Firman.

Diutarakannya, kehadiran PLTA Batangtoru sangat penting bagi Sumut, Indonesia, dan dunia. PLTA Batangtoru dibangun untuk mengurangi peran Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) pada saat beban puncak di Sumut.

Jadi, terangnya, dengan tidak memakai bahan bakar minyak atau fosil, maka pemerintah bisa menghemat devisa yang sangat besar. Dari sisi ekonomi, pemerintah dapat menghemat pengeluaran hingga US$ 400 juta per tahun karena tidak menggunakan bahan bakar fosil. Dari sisi lingkungan, PLTA Batangtoru yang tidak memakai bahan bakar fosil lebih ramah lingkungan karena merupakan pembangkit energi terbarukan. Dampak lanjutannya, mengurangi emisi karbon yang penting untuk memerangi dampak perubahan iklim.

NSHE, jelasnya, juga berperan aktif menjaga keragaman hayati termasuk orangutan melalui tenaga-tenaga ahli yang dimiliki. Diantaranya, PT. NSHE telah melakukan studi populasi orangutan dan satwa liar lainnya yang berkoordinasi dan dipandu BBKSDA dan Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK). “Bahkan BBKSDA, sesuai arahan Menteri LHK, telah membentuk Tim Monitoring untuk memastikan dampak  pembangunan PLTA Batangtoru terhadap populasi orangutan dan satwa liar lainnya,” tuturnya mengakhiri. (Borneo/rel)