PLTA Batangtoru Berikan Manfaat Sisi Energi, Ekonomi dan Lingkungan

PLTA Batangtoru Berikan Manfaat Sisi Energi, Ekonomi dan Lingkungan

24/02/2019 0 By Redaktur 3

MEDAN | Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batangtoru di Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Propinsi Sumatera Utara (Sumut) yang ramah lingkungan memberikan tiga manfaat besar sekaligus dari sisi energi listrik, ekonomi dan lingkungan bagi masyarakat, Sumut, Indonesia dan Dunia.

Tak hanya itu, kelestarian flora dan satwa liar seperti orangutan akan tetap terjaga kelestariannya karena PLTA Batangtoru telah melaksanakan kajian Environmental and Social Impact Assesment (ESIA).

PLTA Batangtoru berkapasitas 510 MW menjadi salah satu dari pelaksanaan program strategis nasional untuk mencapai target pembangunan pembangkit listrik 35.000 MW di Indonesia. PLTA Batangtoru merupakan  pembangkit energi terbarukan yang ramah lingkungan. Energi terbarukan adalah energi yang dapat pulih secara alami, ada terus-menerus dan berkelanjutan.

Pemaparan mengenai PLTA Batangtoru yang ramah lingkungan tersebut disampaikan dalam Media Briefing di Medan, Jum’at (22/2/2019).

Hadir sebagai pembicara yakni Senior Executive for External Relations PT. North Sumatera Hydro Energy (NSHE), Firman Taufick, Senior Advisor Lingkungan PT. NSHE, Dr Agus Djoko Ismanto, dan Ahli Peneliti Utama di Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) AeK Nauli, Wanda Kuswanda SHut MSc.

Firman Taufick mengatakan, Indonesia memiliki sumber energi terbarukan berupa panas matahari, air, angin, bioenergi dan panas bumi. Potensi sumber energi dari air mencapai 75 ribu MW di seluruh Indonesia. Pemerintah menargetkan bauran dari energi terbarukan dapat mencapai 23% dari total sumber energi pada 2030.

Kehadiran PLTA Batangtoru, terang Firman, untuk mengurangi peran Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) pada saat beban puncak di Sumut. Pilihan pada PLTA karena lebih bersih dan lebih berkesinambungan. “Karena itu, kehadiran PLTA Batangtoru akan mendukung pengurangan emisi karbon Sumut dan nasional sebagai langkah kongkrit implementasi Kesepakatan Paris,” ucap Firman.

Disampaikannya, pembangunan PLTA Batangtoru wujud kongkrit untuk menghadirkan green energy di Indonesia khususnya di Sumut. Kehadiran PLTA Batangtoru memberikan manfaat sangat penting bagi Sumut, Indonesia dan dunia.

“Dari sisi energi, PLTA Batangtoru untuk mengurangi peran PLTD yang memakai energi fosil pada saat beban puncak di Sumut,” pungkasnya.
Dari sisi ekonomi, terangnya, dengan memakai sumber energi air maka pemerintah bisa menghemat pengeluaran devisa hingga US$ 400 juta per tahun karena tidak menggunakan bahan bakar fosil. Dari sisi lingkungan, PLTA Batangtoru yang merupakan pembangkit energi terbarukan berkontribusi besar mengurangi emisi karbon nasional yang penting untuk mencegah dan memerangi dampak perubahan iklim yang sedang menjadi ancaman dunia.

“Jadi, kehadiran PLTA Batangtoru juga sebagai langkah kongkrit menerapkan Perjanjian Paris yang telah diratifikasi Pemerintah Indonesia melalui Undang-Undang (UU) Nomor 16 Tahun 2016,” kata Firman.

Diutarakannya, hasil Kajian Pustaka Alam menunjukkan PLTA Batangtoru dapat mengurangi emisi gas rumah kaca mencapai 1,6-2,2 juta metrik ton CO2 atau 4% target sektor energi Indonesia pada 2030.

Sementara Agus Djoko Ismanto mengatakan, kawasan pembangunan PLTA Batangtoru berstatus Areal Penggunaan Lain (APL), bukan hutan primer. Hal ini dapat dilihat dari vegetasi yang tumbuh di lokasi didominasi pohon karet dan jenis-jenis pohon perkebunan lainnya.

“Walaupun berada di APL, kami sangat menyadari kelestarian kawasan Batangtoru adalah elemen penting karena proyek ini memiliki ketergantungan pada keteraturan suplay air dari alam,” kata Agus.

Menurut Agus, PLTA Batangtoru berkomitmen untuk menjadi market leader pembangkit listrik tenaga air. Sejak masa persiapan dan pelaksanaan pembangunan, PLTA Batangtoru mengadopsi dan menerapkan standar-standar nasional dan internasional.

“Selain memenuhi AMDAL, kami telah melaksanakan kajian Environmental and Social Impact Assesment (ESIA) yang menjadikan kami PLTA pertama di Indonesia yang melaksanakan Equatorial Principle,” terang Agus.

Jadi dalam hal ini, sebut Agus, penanganan lingkungan termasuk satwa liar, seperti orangutan di sekitar wilayah pembangunan PLTA mengacu juga pada standar ESIA tersebut.
Wanda Kuswanda, yang telah melakukan riset orangutan di Batangtoru selama 15 tahun mengatakan, hasil penelitiannya menunjukkan APL kawasan Batangtoru bukan merupakan habitat utama orangutan. Hal ini berdasarkan hasil analisis populasi penemuan sarang dan sebaran pakan yang lebih banyak pada hutan konservasi maupun hutan lindung. Rendahnya orangutan di APL karena kawasan ini telah banyak berubah menjadi lahan perkebunan, pertanian dan pemukiman masyarakat sejak ratusan tahun lalu.

“Berdasarkan hasil pengamatan dan yang pernah saya lihat langsung, orangutan disana sudah banyak yang hidup di ketinggian 600-900 meter dpl,” kata Wanda.
Jadi, tuturnya, dalam hal ini pemberdayaan stake holder yang ada di daerah tersebut menjadi berperan penting untuk menjaga kelestarian satwa liar termasuk orangutan di dalamnya.

Ditambahkan Agus, selama ini PLTA Batangtoru telah aktif bekerjasama dengan pemerintah pusat dan daerah serta stake holder untuk menjaga kelestarian flora dan fauna. PLTA Batangtoru juga turut aktif dan mengikuti arahan Kementerian LHK terutama melalui BBKSDA dalam memonitor satwa liar seperti orangutan yang masuk ke APL lokasi pembangunan Batangtoru.

“Diantaranya dengan membangun jembatan arboreal untuk orangutan menjelajah dari hutan ke APL dan sebaliknya, serta mendukung pembangunan demplot  pengkayaan pakan orangutan,” terangnya. (Rel/Borneo)