Di Bener Meriah, Petani dan MPIG Tapsel Kunjungi Koperasi Penghasil Kopi Organik Bersertifikat

Di Bener Meriah, Petani dan MPIG Tapsel Kunjungi Koperasi Penghasil Kopi Organik Bersertifikat

27/02/2019 0 By Redaktur 3

BENER MERIAH | Hasilkan produk kopi organik bersertifikat melalui pengelolaan kemitraan antara koperasi dengan petani menjadi masukan berharga yang diperoleh 38 petani kopi dan Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Kopi Arabika Sipirok, Kabupaten Tapsel.

Masukan berharga tersebut diperoleh saat studi banding ke Koperasi Petani Kopi Petri Pintu di Kampung Bale Redelong, Kecamatan Bukit, Kabupaten Bener Meriah, Propinsi NAD, Minggu (24/2/2019) lalu.

Bener Meriah menjadi tujuan kedua studi banding, setelah Sabtu (23/2/2019) lalu, rombongan petani asal Kecamatan Sipirok, Marancar, Angkola Timur, Arse, Saipar Dolok Hole dan Aek Bilah tersebut mendapatkan banyak ilmu tentang kopi di Farmer Support Centre Starbucks yang berlokasi di Kecamatan Dolat Raya, Kabupaten Karo.

Rombongan yang diberangkatkan atas kerjasama BRI Unit Sipirok, MPIG Kopi Arabika Sipirok, Tapsel dan PT. North Sumatera Hydro Energy (NSHE) tersebut diterima pengurus Koperasi Petri Pintu, Misruran serta pengurus lainnya.

Kepada rombongan, Misruran mengatakan bahwa mereka sudah 20 tahun lamanya menjalani bisnis kopi. Hingga saat ini, produksi kilang kopi mereka bisa memproses minimal dua ton perharinya.

Misruran bersama pengurus koperasi lainnya langsung memandu rombongan ke kilang kopi, salah satu fasilitas yang melayani semua hasil panen petani, berjarak sekitar 500 meter dari kantor koperasi.

Dikesempatan itu, Misruran menjelaskan bahwa kopi hasil petikan saat sudah menjadi cheri, langsung diproses pulper, yakni memisahkan kulit cheri dengan biji hingga menghasilkan gabah kopi.

“Cheri yang sudah dipetik sebaiknya jangan dibiarkan bermalam,” jelasnya.
Setelah itu, terangnya, gabah kopi di fermentasi selama 12 jam. Usai fermentasi langsung dicuci.

“Itulah mengapa namanya disebut fullwash,” terangnya.
Proses selanjutnya adalah penjemuran. Lama penjemuran tergantung matahari. Kalau cerah, jemur pagi, sore bisa langsung di-huller untuk menjadi greenbean. Kalau matahari tidak cerah, penjemuran harus dua hari. Setelah proses huller, dilakukan sortir guna memisahkan biji berukuran besar dan kecil.

Ia juga mengungkapkan bahwa petani di daerah tersebut sangat jarang menggunakan bahan anorganik seperti pestisida.

“Jadi, produksi kami disini adalah kopi organik dan sudah bersertifikat,” ungkapnya.
Untuk melayani semua hasil panen petani kopi, kilang kopi yang bekerjasama dengan Koperasi Petri Pintu memiliki mesin dengan harga berkisar Rp110 juta-Rp120 juta. Mesin dengan operator empat orang yang mampu memproses satu ton lebih biji kopi per-jamnya.

“Rata-rata bisa memproses dua ton biji kopi per hari. Bahkan pernah mencapai delapan ton saat musim panen raya,” pungkasnya.

Melihat itu semua, Kepala rombongan studi banding, Erwinsyah Siregar berharap, kedepan mereka bisa memiliki mesin seperti milik Koperasi Petri Pintu, sehingga dapat mempercepat proses dari cheri menjadi gabah lalu menjadi greenbean. (Rel/Borneo)