Petani dan MPIG Tapsel Temui Koperasi Pengekspor Kopi Beromset Rp165 Miliar Pertahun Ke Aceh Tengah

Petani dan MPIG Tapsel Temui Koperasi Pengekspor Kopi Beromset Rp165 Miliar Pertahun Ke Aceh Tengah

01/03/2019 0 By Redaktur 3

ACEH TENGAH | Aceh Tengah, Propinsi NAD merupakan wilayah penghasil kopi Gayo berkualitas yang sudah sangat terkenal bahkan ke mancanegara. Satu keberuntungan bagi 38 petani kopi dan Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Kopi Arabika Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) studi banding ke Aceh Tengah tersebut, Senin (25/2) lalu.

Studi banding atas kerjasama BRI Unit Sipirok, MPIG Kopi Arabika Sipirok, Tapsel dan PT. North Sumatera Hydro Energy (NSHE). Kunjungan ke Aceh Tengah tersebut merupakan rangkaian dari studi banding Sabtu (23/2) lalu, yang telah mengunjungi Farmer Support Centre Starbucks di Kecamatan Dolat Raya, Kabupaten Karo, Propinsi Sumut.

Kemudian Minggu (24/2) ke Koperasi Petri Pintu, koperasi penghasil kopi organik bersertifikat di Kampung Bale Redelong, Kecamatan Bukit, Kabupaten Bener Meriah, Propinsi NAD.

Di Aceh Tengah, rombongan memulainya dengan terlebih dahulu silaturahmi ke Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Tengah. Rombongan disambut hangat Plt Kepala Dinas (Kadis) Pertanian Aceh Tengah, Juanda dan jajaran.
Di silaturahmi tersebut, Plt Kadis menyampaikan, Aceh Tengah dijuluki Kota Kopi karena memang Kopi Gayo sudah terkenal hingga ke mancanegara.

“Untuk ladang kopi ada 49 ribu hektar, varietas Gayo 1 dan Gayo 2, ada pula Ateng (Aceh Tengah). Sedangkan varietas baru yang akan diluncurkan adalah Ateng Super (Gayo 3),” ucap Kadis.

Diutarakan Juanda, untuk penanganan pengolahan kopi di Aceh Tengah diantaranya berkat adanya koperasi petani kopi, kafe dan mobil kafe. Untuk koperasi besar, di Aceh Tengah ada enam.

“Saat ini kelompok petani kopi ada 1.500 kelompok yang disahkan oleh Bupati. Sebelum disahkan bupati, akan dianggap sebagai kelompok petani kopi illegal. Jumlah penyuluh di Aceh Tengah sebanyak 145 orang,” jelas Juanda.

Di pertemuan itu, ia mengarahkan agar rombongan dibagi dua tim. Satu rombongan ke kampung kopi Tebes Lues untuk mempelajari pengolahan kopi hingga ke tahap ekspor. Satu rombongan lagi ke Koperasi Baitul Qiradh Baburrayyan untuk belajar tentang pengolahan kopi dan pengembangan indikasi geografis.

Tiba di Koperasi Baitul Qiradh Baburrayyan, rombongan disambut Ketua Koperasi, Ridwan Husein, Manager Pabrik Koperasi, Haris dan Humas, Iwan Tosah. Rombongan langsung dibawa melihat pabrik pengolahan kopi.

Dikatakan Iwan Tosah, koperasi menerima greenbean dari kolektor atau kelompok tani lalu ditimbang, di uji kualitas baru negosiasi harga. Kolektor mengumpulkan gabah dari petani dan mengolahnya menjadi greenbean.

“Jadi, standar kualitas sudah diajarkan dari level petani hingga kolektor. Misalnya, biji kopi yang dijemur diaspal, itu tidak akan laku dijual karena mempengaruhi kualitas biji kopi,” terang Iwan.

Disebutkan Haris, koperasi mulai bergerak di bidang kopi pada tahun 2004-2005 dengan anggota awal berjumlah 500 orang.

“Sekarang anggotanya sebanyak 5.500 petani yang tergabung dalam 100 kelompok tani atau kolektor. Sedangkan karyawan koperasi berjumlah 100 orang,” sebutnya.

Diutarakannya, seluruh kopi di proses di pabrik milik koperasi, sebanyak 11 unit mesin Huller, disebar ke sejumlah titik agar mudah dijangkau kelompok tani.
Kemudian, sebanyak 90 persen kebun kopi yang ada di wilayah tersebut sudah organik, sisanya masih belajar organik.

“Disini kami memproses kopi dengan metode semiwash. Proses sampai pengemasan harus sangat teliti karena untuk di ekspor,” jelasnya.

Diutarakan Haris, pertahunnya koperasi bisa mengekspor 110 kontainer kopi ke Amerika dan Eropa, dengan harga sekitar Rp1,5 miliar per kontainer, atau dengan omset ekspor sekitar Rp165 miliar pertahunnya.

Diceritakan Ridwan Husein yang juga penggagas MPIG Gayo, dulunya tahun 2002, koperasi hanya bergerak di bidang simpan pinjam. Namun, karena tidak mampu bersaing maka beralih menjadi koperasi petani kopi. Peralihan tersebut juga karena melihat peluang kalau pasar Amerika Serikat dan Eropa sangat berminat dengan kopi organik.

“Sehingga kita mencoba beralih ke kopi,” ucap Ridwan.
Sementara MPIG Gayo, terangnya, berdiri belakangan sekitar tahun 2010 sesuai aturan pemerintah.

“Fungsi MPIG adalah untuk melindungi hak paten kopi di daerah, sehingga tidak bisa diklaim oleh pihak lain,” terangnya.

Dijelaskannya bahwa MPIG Gayo tidak boleh memiliki usaha seperti yang dilakoni petani, hanya sebagai wadah bagi petani kopi saja.

Ia juga berharap koperasi petani kopi di Tapsel segera berdiri dan berjalan lancar bersama MPIG untuk membantu kesejahteraan petani kopi. (Rel/Borneo)