Darul Mursyid Uji Coba Ilmu Falak Metode  Rashdul Qiblah

Darul Mursyid Uji Coba Ilmu Falak Metode  Rashdul Qiblah

31/07/2020 0 By Redaktur 3
TAPSEL I Dalam memelihara khazanah keilmuan ilmu Falak atau Astronomi, Pesantren Modern Unggulan Terpadu “Darul Mursyid” (PDM) tetap mengikuti perkembangan-perkembangan teknologi yang pada dasarnya sangat mempengaruhi kesempurnaan ibadah umat Islam.

“Salah satunya tentang arah kiblat yang mana telah ditegaskan juga dalam Al Qur’an surat Al-Baqarah ayat 150 tentang kewajiban menghadap kiblat khususnya dalam menjalankan ibadah shalat 5 waktu dan ibadah sunnah yang lainnya,” ujar Kepala Divisi Pembinaan Ibadah PDM Muhammad Hamdani, Kamis (30/7/2020).

Hamdani juga menjelaskan sekilas tentang Rashdul Qiblah dan kesimpulan uji coba metode Rashdul Qiblah yang telah dilakukan di Masjid Hj Khadijah PDM yang terletak di Sidapdap Simanosor, Kecamatan Saipar Dolok Hole (SDH), Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatera Utara (Sumut).

Dijelaskannya, Rashdul Qiblah merupakan peristiwa ketika lintang Ka’bah sama dengan deklinasi matahari. Pada saat itu matahari berkulminasi atau berada tepat diatas Ka’bah yang menyebabkan arah jatuhnya bayangan suatu benda yang terkena sinar matahari dan berdiri tegak lurus akan mengarah lurus ke Ka’bah. Peristiwa Rashdul Qiblah terjadi dua kali dalam satu tahun yaitu tepatnya pada tanggal 28 Mei jam 12:18 waktu Makkah atau 16:18 WIB dan tanggal 16 Juli jam 12:27 waktu Makkah atau 16:27 WIB untuk tahun Basithah (pendek). Sementara untuk tahun Kabisat terjadi pada tanggal 27 Mei dan 15 Juli dengan jam yang sama.

“Dan cara pelaksanaan Rashdul Qiblah harus melalui beberapa langkah, yakni pertama, menentukan masjid atau mushalla yang akan diukur arah kiblatnya. Kedua,  siapkan tongkat lurus atau benang berbandul. Ketiga, mencari lokasi yang datar yang dapat tersinari matahari secara langsung. Keempat, pasang tongkat secara tegak lurus atau gantungkan benang yang berbandul. Ke lima, tunggu sampai peristiwa Istiwa dengan patokan jam yang telah diatur sesuai dengan jam BMKG,” jelas Hamdani.

Dia menambahkan, apa yang dilakukan bukan teori semata tentang Rashdul Qiblah, namun juga mengadakan uji coba arah kiblat Masjid Hj Khadijah di PDM pada Kamis 16 Juli 2020 lalu menggunakan alat qiblat tracker.

“Dari hasil pengamatan, pengukuran dan perhitungan arah kiblat dengan menggunakan metode Rashdul Qiblah, kami memperoleh data 01°,78° LU dan 99°,36° BT, sehingga dapat disimpulkan bahwa  arah kiblat dari Utara sebenarnya dengan nilai 293,48°. Alhamdulillah hasilnya sesuai dengan harapan kita bersama bahwa arah kiblat Masjid Hj Khadijah telah sesuai dengan arah kiblat yang sebenarnya,” tuturnya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur PDM Yusri Lubis juga mengungkapkan rasa syukurnya bahwa setelah dilakukannya pengamatan, pengukuran dan perhitungan arah kiblat Masjid Hj Khadijah, sesuai dengan arah kiblat yang seharusnya.
“Alhamdulillah, setelah dilakukannya pengamatan, pengukuran dan perhitungan berdasarkan metode Rashdul Qiblah, yang merupakan metode acuan penentuan arah kiblat seluruh umat muslim di muka bumi ini, bisa menghilangkan rasa was-was atau keraguan dalam diri kita saat menunaikan ibadah shalat lima waktu,” pungkas Yusri.

Yusri mengemukakan, ketika akan membangun sebuah masjid maupun mushalla, yang paling didahulukan adalah menentukan posisi arah kiblat, disamping merencanakan konstruksi dan design bangunan yang diinginkan. Namun masih banyak didapati adanya penentuan arah kiblat dengan rasa-rasa, arah masjid yang berdekatan, ada juga yang diarahkan ke arah matahari sore menjelang terbenam dengan membentuk bayangan suatu benda atau tongkat, tanpa memperhatikan arah matahari pada tanggal, bulan dan tahun berapa.

“Namun dengan cara ini kita dapat menentukan arah kiblat dengan baik. Hanya saja tinggal kita melihat tanggal, bulan serta jam di daerah tempat tinggal kita, apakah WIB, WITA atau WIT,” sebutnya.

Terpisah, Ketua Umum Yayasan Pendidikan Haji Ihutan Ritonga (Yaspenhir), Jafar Syahbuddin Ritonga DBA, badan pengelola PDM memberikan apresiasi yang tinggi tentang penerapan ilmu Falak di PDM, dan menyatakan harapan terbesarnya untuk menjadikan PDM dengan ilmu sainsnya menjadi Lembaga Pemberdayaan Umat kedepannya.

“Ilmu Falak saat ini sudah jarang diminati dan diterapkan di sekolah atau pesantren. Hal ini dapat dibuktikan dengan melihat bahwasanya yang ahli dalam bidang ilmu Falak saat ini di Sumut hanya Dr Buya Arso SAg yang saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumut. Padahal ilmu Falak merupakan warisan berharga dari ulama terdahulu dan merupakan salah satu bukti keunggulan peradaban Islam yang memberikan kontribusi sangat besar terhadap Astronomi modern,” ucap Jafar Syahbuddin.

Untuk melanjutkan warisan dari ulama terdahulu, tegas Jafar, maka Pesantren Darul Mursyid berkomitmen untuk mengkaji, melestarikan dan menguatkan kembali kajian ilmu Falak yang sudah mulai “hilang” dari dunia pendidikan yang memungkinkan akan mengakibatkan kekeliruan dalam penentuan arah dan waktu dalam beribadah.

“Melalui pendidikan yang diberikan pada siswa-siswi PDM, yang mana harapan kami kedepan PDM bisa melahirkan ilmuwan-ilmuwan yang paham akan ilmu Falak dan bisa bermanfaat bagi banyak umat khususnya Islam suatu kelak nanti,” ungkap Jafar penuh harap. (Rel/Borneo)