Tuanku Dorong Hutagalung (Jejak dan Perjuangannya di Pesisir Teluk Tapian Nauli)

Tuanku Dorong Hutagalung (Jejak dan Perjuangannya di Pesisir Teluk Tapian Nauli)

05/08/2020 0 By Redaktur 3

Oleh : Sahat Simatupang, SE, MM
Dosen STIE Al-Washliyah Sibolga/Tapanuli Tengah

Pendahuluan
Tuanku Dorong Hutagalung terlahir dengan nama Raja Luka Hutagalung. Anak pertama dari Ompu Raja Uti Hutagalung gelar Ompu Raja Timbo Hutagalung.

Dinobatkan sebagai Raja Sibolga yang ketiga pada tahun 1767. Tuanku Dorong Hutagalung merupakan cucu langsung dari Ompu Hurinjom Hutagalung gelar Si-Balga, orang yang membuka perkampungan Sibolga (sipukka huta) pada sekitar tahun 1700.

Sebagai Raja Sibolga, Tuanku Dorong Hutagalung menduduki tahta Kerajaan
Sibolga selama 56 tahun. Terhitung sejak tahun 1767 s.d.`1823 dengan pusat kerajaan terletak di tepian sungai Aek Doras yang berhadapan langsung dengan Teluk Tapian Nauli. Kekuasaan Tuanku Dorong Hutagalung yang terbilang lama itu menempatkannya sebagai tokoh sentral dan berpengaruh diantara raja-raja yang berkuasa dikawasan pesisir Teluk Tapian Nauli.

Sejak kecil Tuanku Dorong Hutagalung memiliki sifat yang pendiam. Namun telah menunjukkan bakatnya dalam dunia kemiliteran dan strategi peperangan. Hal tersebut telah ia buktikan setelah beliau menginjak dewasa dan dinobatakan sebagai Raja Sibolga. Tuanku Dorong Hutagalung tercatat sebagai raja yang paling banyak melakukan strategi dan siasat perang. Menghadapi imperialisme dan kolonialisme Inggris dan Belanda yang ingin merebut dan menguasai kawasan pesisir Teluk Tapian Nauli.

Dari catatan yang bersumber dari keluarga ahli waris Raja Sibolga menyebutkan bahwa, Tuanku Dorong Hutagalung lahir di Sibolga pada tahun 1740. Merupakan anak pertama dari Ompu Raja Uti Hutagalung gelar Ompu Raja Timbo Hutagalung.

Memiliki kepribadian yang penuh persahabatan dan mudah bergaul dengan siapa saja. Kebiasaan itu terus berlanjut hingga beliau dinobatkan menjadi Raja Sibolga setelah ayahandanya mangkat.
Pada umumnya sahabat-sahabatnya itu adalah orang-orang yang berasal dari daerah Sumatera Barat seperti, Pariaman, Pagaruyung, Tiku dan Bukit Tinggi.

Sebelum Kampung Sibolga dibuka oleh Ompu Hurinjom Hutagalung (1700), wilayah ini telah menjadi lalu lintas pelayaran dan tempat persinggahan favorit orang-orang yang berasal dari Sumatera Barat dan Aceh pada masa itu.

Pada awalnya tujuan dari kedatangan orang-orang Minangkabau ketempat ini adalah hanya sekedar beristirahat, mengisi perbekalan air dan mandi sebelum melanjutkan perjalanan. Mereka adalah para saudagar yang melakukan perniagaan antar pulau dan juga sebagai nelayan.

Namun sejak Kerajaan Sibolga dipimpin oleh Tuanku Dorong Hutagalung para saudagar dan nelayan itu lebih memilih tinggal dan menetap di Kampung Sibolga. Mereka merasa dilindungi dan diperhatikan oleh raja yang berkuasa ketika itu. Sehingga mereka terhindar dari segala intimidasi dan perlakuan yang tidak baik dari orang-orang Belanda, dan para perampok dari bangsa Tuanku Dorong Hutagalung sendiri.

Tuanku Dorong Hutagalung adalah sosok seorang raja yang sangat disegani. Memiliki sifat yang terpuji dan selalu melindungi rakyat kecil yang tertindas. Selalu tampil kedepan memberikan pembelaan terhadap rakyat kecil. Membela dan melindungi para saudagar yang datang dari bumi Minangkabau dari rongrongan dan intimidasi Belanda.
Tuanku Dorong Hutagalung juga dikenal sebagai orang yang bertempramen keras dan tegas dalam bertindak. Pantang menyerah dan mundur satu langkah pun terutama dalam menghadapi imperialisme dan kolonialisme Belanda yang ingin menguasai kawasan pesisir Teluk Tapian Nauli.

Dengan jiwa patriotik dan heroisme yang dimilikinya itu oleh Yang Dipertuan Agung Raja Kerajaan Paguruyung memberikan penghargaan dan gelar kehormatan kepadanya. Menganugerahinya dengan gelar “Tuanku Dorong” bermakna “seorang raja yang gagah dan berani”. Sejak itu Raja Sibolga bernama Raja Luka Hutagalung lebih dikenal namanya dengan Tuanku Dorong Hutagalung hingga sekarang. (bersambung)