Tuanku Dorong Hutagalung  (Jejak dan Perjuangannnya di Pesisir Teluk Tapian Nauli)

Tuanku Dorong Hutagalung  (Jejak dan Perjuangannnya di Pesisir Teluk Tapian Nauli)

06/08/2020 0 By Redaktur 3

Oleh : Sahat Simatupang, SE, MM
Dosen STIE Al-Washliyah Sibolga/Tapanuli Tengah
(Bagian-2)

Ahli Strategi dan Siasat Perang
Peristiwa peperangan besar yang terjadi di seluruh wilayah Eropa yang melibatkan Inggris dan Prancis (1780) membawa
dampak yang cukup besar di kawasan pesisir pantai barat
Sumatera. Pada akhirnya sampai juga ke kawasan pesisir Teluk
Tapian Nauli. Kapal-kapal perang Prancis telah melakukan penyerangan terhadap benteng-benteng Inggris yang berada di
Poncan Ketek.
Kehadiran kapal perang Prancis ini kurang disukai oleh raja-raja dan penduduk setempat. Sehingga raja-raja yang berada di kawasan pesisir Teluk Tapian Nauli turut membantu Inggris untuk mengusir Prancis dari Poncan Ketek. Prancis hanya bertahan satu tahun di Poncan Ketek dan hengkang dari kawasan pesisir Teluk Tapian Nauli (1781).

Peristiwa perang yang terjadi di seluruh kawasan Eropa membuat kawasan pesisir Teluk Tapian Nauli menjadi ajang perebutan kekuasaan dan pengaruh diantara Inggris, Belanda, dan Aceh. Dari suasana dan kondisi yang demikian itu Tuanku Dorong Hutagalung terpaksa harus melakukan pembenahan kembali kerajaan Sibolga. Tuanku Dorong Hutagalung menyadari sangat mustahil mampu menghadapi Inggris secara frontal.

Meskipun beliau mendapatkan banyak bantuan dan dukungan dari raja-raja di kawasan pesisir Teluk Tapian Nauli.
Disisi lain pihak Inggris juga menyadari bahwa tidak semudah itu menaklukkan rakyat dikawasan pesisir Teluk Tapian Nauli. Diantara kedua belah pihak tidak ada yang diuntungkan. Bagi Tuanku Dorong Hutagalung sendiri, sepanjang kawasan pesisir pantai Sibolga tidak diganggu atau direbut oleh Inggris atau Belanda, maka Kerajaan Sibolga masih tetap dalam keadaan aman.

Pada tulisan Sutan Parhimpunan (Agustus 2009) menuliskan bahwa pada situasi yang demikian itu Tuanku Dorong Hutagalung melakukan pembenahan bala tentaranya semaksimal mungkin. Teman-temannya ketika latihan militer di Simaninggir dikumpulkan dan diangkat sebagai panglima-panglima bala tentera Kerajaan Sibolga. Ibrahimsyah, Markam Aliudin Tapus, Idrus Koling Tabuyung, dan Abu Bakar Tarumon diberi jabatan sebagai wakil dari Panglima Tarihoran.

Mereka juga memiliki pasukan senjata panjang dibawah pimpinan Ibrahimsyah. Idrus Koling Tabuyung memimpin pasukan artileri dengan meriam-meriam pantai. Sementara pasukan penjaga pantai atau sejenis pasukan amphibi dipimpin oleh Abu Bakar Tarumon. Ada pula beberapa panglima pasukan infantri diantaranya Datuk Singkuang, dan panglima Mela.
Sedangkan penasehat militer terdiri dari marga Pardede, Simbolon dan Simatupang. Ditambah dengan dukungan logistik dari kampungnya Simaninggir, Bonan Dolok dan Bair. Termasuk dukungan dari kerabatnya sendiri diantaranya Datu Porhas, dan Ompu Tambar. Bagi Tuanku Dorong Hutagalung keamanan dan kesejahteraan rakayatnya jauh lebih penting dari segalanya.

Sementara penasehat kerajaan Datu Pangambat Toba dan adiknya bernama Raja Syaitan yang bergelar Panglima Kolang. Mereka menyusun siasat perang dalam menghadapi Inggris dan Belanda yang semakin merajalela dan berbuat semena-mena untuk menguasai kawasan pesisir Teluk Tapian Nauli. Pada masa itu kekuatan militer yang dimiliki oleh Tuanku Dorong Hutagalung cukup disegani dikawasan pesisir Teluk Tapian Nauli.

Perinsip yang ditanamkan Tuanku Dorong Hutagalung sangat sederhana bagaimana rakyatnya dapat terlindungi dari dampak pertempuran antara pasukan perang Inggris, Belanda dan Aceh. Keamanan dalam negeri dan mempertahankan kedaulatan saja, itu sudah cukup.
Meskipun secara tidak langsung Tuanku Dorong Hutagalung tetap saja terlibat dalam peperangan diantara pasukan tempur Inggris, Belanda dan Aceh, dikawasan pesisir Teluk Tapian Nauli. Oleh karena pusat pertempuran itu berada didepan Kerajaan Sibolga. Artinya bahwa rakyat dari Kerajaan Sibolga lah yang paling merasakan dampak dari pertempuran itu.

Untuk mengantisipasi agar wilayah Kerajaan Sibolga terlindungi dari gempuran kapal-kapal perang milik Inggris dan Belanda maupun Aceh, Tuanku Dorong Hutagalung memerintahkan agar rumah-rumah yang berada ditepi pantai tidak diperbolehkan membelakangi rumah raja yang posisinya menghadap pantai. Semua rumah penduduk yang berada ditepi pantai diharuskan membelakangi laut menghadap daratan dan saling berdempetan rapat tanpa celah.
Strategi dan tindakan yang dilakukan Tuanku Dorong Hutagalung minimal rumah-rumah itu dapat dijadikan sebagai pilar dan benteng-benteng pertahanan. Mewanti-wanti apabila sewaktu-waktu terjadi pertempuran besar diantara Inggris, Belanda dan Aceh. Tuanku Dorong Hutagalung telah mempersiapkan rakyatnya dalam kondisi siaga satu. Siap menghadapi dampak dari pertempuran diantara Inggris, Belanda dan Aceh itu.
Setelah Indonesia merdeka tahun 1945 sampai pada era tahun 1970 an posisi dari rumah yang membelakangi laut. Tidak ada rumah yang berhadap-hadapan semua berjejer rapat tanpa celah. Masih ada terlihat sisa-sisanya didaerah Pasar Belakang Kota Sibolga. Masyarakat Sibolga menyebut daerah itu dengan nama “Kampung Sabalah”. Namun diera sekarang lokasi itu telah berganti dengan rumah-rumah yang padat dan tidak teratur lagi, disepanjang Jalan Perintis Kemerdekaan Kelurahan Pasar Belakang Kota Sibolga yang sekarang.

Apa yang telah diprediksikan sebelumnya oleh Raja Sibolga Tuanku Dorong Hutagalung terbukti adanya. Tidak lama berselang terjadi pertempuran hebat diantara pasukan armada perang Belanda, Inggris dan Aceh untuk memperebutkan wilayah Poncan Ketek. Inggris mendatangkan armada kapal perang yang cukup besar yaitu dengan 8 buah kapal perang, sehingga Inggris dapat merebut kembali wilayah Poncan Ketek dari tangan pasukan tempur Aceh (1781).

Dalam pertempuran itu Inggris berhasil memukul mundur tentera Aceh dan Belanda dari seluruh wilayah Poncan Ketek. Pasukan Aceh dipaksa untuk meninggalkan Poncan Ketek dan kawasan pesisir Teluk Tapian Nauli. Kemudian Inggris melakukan tindakan merebut semua pos-pos perdagangan yang ada disebelah utara Teluk Tapian Nauli. Namun keberhasilan armada perang Inggris memukul mundur pasukan tempur Aceh itu tidak berlangsung lama.
Pada tahun 1786 kawasan pesisir Teluk Tapian Nauli kembali bergolak. Armada perang Aceh kembali memasuki Poncan Ketek dengan melakukan penggempuran terhadap pos-pos milik Inggris. Poncan Ketek kembali menjadi rebutan antara Inggris, Aceh dan Belanda.

Atas penyerangan armada perang Aceh itu Inggris tidak tinggal diam. Mereka mendatangkan kembali bantuan armada kapal perang yang ada di Natal. Sehingga armada perang Aceh dapat dipukul mundur dan dipaksa keluar dari Poncan Ketek.

Sebagai akibat dari peperangan itu terjadi kerusakan dimana-mana dan perekonomian masyarakat kembali macet. Satu tahun lamanya kondisi dan suasana yang memprihatinkan itu dirasakan oleh raja-raja yang ada dikawasan pesisir Teluk Tapian Nauli. Terutama sekali Kerajaan Sibolga yang berhadapan langsung dengan lokasi pertempuran, menjadi ikut terseret dan merasakan penderitaan yang sangat memprihatinkan.

Tidak dapat terelakkan lagi, kedatangan rombongan pengungsi dari Poncan Ketek mencari tempat perlindungan yang lebih aman kewilayah Kerajaan Sibolga. Kedatangan pengungsi ini telah menimbulkan persoalan baru bagi Raja Sibolga. Sehingga seluruh pengungsi yang baru datang diberikan kewajiban dan tanggung jawab selama berada diwilayah kerajaan yang dipimpinnya. Pemberlakuan aturan yang ketat dilakukan disamping aturan-aturan yang sudah ada sebelumnya. Tuanku Dorong Hutagalung membuat statement baru bahwa musuh utama kerajaan adalah Inggris dan Belanda yang disebutnya dengan “si bontar mata” itu. (bersambung)