Tuanku Dorong Hutagalung (Jejak dan Perjuangannya di Pesisir Teluk Tapian Nauli)

Tuanku Dorong Hutagalung (Jejak dan Perjuangannya di Pesisir Teluk Tapian Nauli)

09/08/2020 0 By Redaktur 3

Oleh : Sahat Simatupang, SE, MM
Dosen STIE Al-Washliyah Sibolga/Tapanuli Tenga (Bagian-3)

Tokoh Senteral Dikawasan Pesisir Teluk Tapian Nauli
Berselang satu tahun keadaan mulai kondusif tanpa ada perang, Keadaan ini dimanfaatkan oleh Tuanku Dorong Hutagalung mengajak rakyat dan tentaranya membenahi kembali
Kerajaan Sibolga. Salah satu diantaranya dengan menetapkan patok batas wilayah Kerajaan Sibolga, agar tidak terjadi persoalan-persoalan hak kepemilikan atas tanah yang ditempati oleh rakyatnya.
Sebelumnya telah pernah terjadi peristiwa perkelahian sesama penduduk pendatang. Dipicu dari persoalan lahan hunian dan tanah garapan. Sehingga menimbulkan gejolak yang bersifat internal dan
sangat mengganggu keamanan dan ketertiban diwilayah Kerajaan Sibolga. Oleh karena itu Tuanku Dorong Hutagalung menetapkan tapal batas Kerajaan Sibolga dengan batas-batas yang disebutkan :
– Sebelah utara sekitar perbatasan Mela dan Poriaha.
– Sebelah barat dengan laut beserta pulau-pulau disekitarnya.
– Sebelah selatan antara Sarudik dan Sibuluan.
– Sebelah timur adalah Bukit Barisan sampai daerah Bonan Dolok dan Bair.
Bila ditinjau dari aspek historis batas wilayah Kerajaan Sibolga ini dapat dijadikan rujukan dalam rangka penetapan rencana perluasan Kota Sibolga dimasa yang akan datang.

Tuanku Dorong Hutagalung kemudian membenahi kembali masyarakatnya yang baru selesai terlibat perang teluk itu. Pasukan perang kerajaan ditata kembali dengan organisasi yang baru. Meningkatkan kembali hubungan bilateral dengan raja-raja yang ada dikawasan pesisir Teluk Tapian Nauli, melalui ikatan kekerabatan suku Batak Dalihan Natolu.

Cara-cara yang demikian ini sangat penting dilakukan dalam menghadapi imperialisme dan kolonialisme Inggris dan Belanda.
Sedangkan hubungan dengan pesisir selatan seperti daerah Natal, Air Bangis, Tiku, sampai ke daerah Painan, Pariaman Sumatera Barat dalam bidang perdagangan semakin ditingkatkan lagi.

Demikian pula hubungan yang selama ini baik dengan daerah-daerah seperti Maulaboh, Tarumon dan Singkil terus dipelihara oleh Tuanku Dorong Hutagalung.
Hubungan bilateral yang saling menguntungkan itu semakin menambah keyakinan para saudagar yang berasal dari bumi Minangkabau. Mereka tidak lagi menjadikan wilayah Kerajaan Sibolga hanya sekedar tempat transit mengisi perbekalan air dan mandi sebelum melanjutkan perjalanan. Namun lebih dari itu mereka secara berangsur-angsur mulai tinggal menetap menjadi penduduk Sibolga.

Pada umumnya mereka yang datang dari bumi Minangkabau telah menganut agama Islam. Sedangkan mereka yang datang dari daerah pedalaman Toba dan Silindung masih menganut aninisme. Namun budaya dan adat istiadat suku Batak yang mereka bawa secara perlahan dapat menyesuaikan dengan budaya dan adat istiadat masyarakat pesisir yang berlandaskan syariat Islam itu. Menyusul kemudian dengan kedatangan orang-orang yang berasal dari daerah bagian selatan seperti; Sipirok, Angkola dan Mandailing.
Kedatangan orang-orang dari berbagai daerah dengan latar belakang budaya, etnis, suku dan agama yang berbeda-beda itu berkumpul dalam satu kawasan teritorial yang sama. Mereka hidup dengan cara pandang yang sama untuk meningkatkan kesejahteraan bersama.

Kemudian mereka hidup dalam geo politik dan ekonomi yang sama. Lalu mereka berproses secara alamiah yang pada akhirnya membentuk sebuah komonitas masyarakat baru. Komonitas masyarakat itu dikemudian hari dinamakan “komonitas masyarakat pesisir sumando” Teluk Tapian Nauli.

Jauh Sebelum itu pada sekitar tahun 1553 bangsa Portugis telah datang membawa rombongan pekerja dari berbagai pelosok nusantara sebagai pekerja (buruh) kesebuah pulau dalam kawasan Teluk Tapian Nauli bernama Poncan. Para pekerja (buruh) itu dipekerjakan oleh bangsa Portugis membangun benteng-benteng pertahanan dan sebuah bandar kecil di Poncan Ketek.

Poncan Ketek adalah sebuah kawasan yang ditempati oleh penduduk pribumi dari sejak ratusan tahun lalu yang dipimpin oleh seorang Datuk. Datuk adalah jabatan yang disematkan kepada seorang tokoh masyarakat yang juga sebagai penguasa lautan dikawasan Poncan. Jabatan seorang Datuk adalah jabatan seorang pemimpin bagi masyarakat pribumi yang tinggal menetap di Poncan pada masa itu.
Sutan Mangaraja Lelo adalah orang yang menduduki jabatan sebagai Datuk Poncan ketika Inggris merebut kembali dan berkuasa atas wilayah Poncan Ketek (1781). Sutan Mangaraja Lelo merupakan generasi terakhir dari bagian dari sisa-sisa rakyat dari Kerajaan Jayadana, dengan ratunya Puteri Runduk dari negeri Fansuri Barus. Mereka telah tinggal menetap bertahan hidup generasi ke generasi dari kakek buyut Sutan Mangaraja Lelo dikawasan antara Mursala dan Poncan. Mereka adalah penduduk asli pesisir yang berada dikawasan Teluk Tapian Nauli.
Sejak kehadiran Inggris di Poncan Ketek mereka telah memperbaiki dan menambah fasilitas perdagangannya berupa gudang-gudang penyimpanan hasil hutan.

Memperluas bandar laut dan mendirikan benteng-benteng pertahanan disekeliling Poncan Ketek (1795). Inggris kembali mendekati dengan membujuk raja-raja dikawasan pesisir Teluk Tapian Nauli. Mereka menawarkan perdagangan yang saling menguntungkan dengan raja-raja tersebut.

Atas tawaran tersebut oleh raja-raja dikawasan pesisir Teluk Tapian Nauli memintak jaminan keamanan kepada Inggris. Jaminan keamanan agar tidak menguasai daratan pesisir pantai Teluk Tapian Nauli yang telah menjadi wilayah kedaulatan raja-raja tersebut. Kesepakatan perundingan itu dapat tercapai, sehingga seluruh kawasan pesisir Teluk Tapian Nauli pada masa itu menjadi tenang kembali tanpa ada perang.

Perdagangan dari pedalaman pulau Sumatera menjadi semakin lancar. Bonan Dolok, Aek Raisan dan Adian Koting semakin hidup dan berkembang. Demikian juga daerah Sipirok, Angkola melalui Batang Toru dan turun kepesisir kearah selatan Teluk Tapian Nauli. Badiri dan Jago-jago dipesisir pantai telah mulai mengisi dan mengambil barang dari onan yang ada dinegeri Sibolga.

Dari pulau Mursala penduduk setempat telah mulai berani mengantar garam buatan sendiri. Mereka telah langsung dapat memperdagangkan garam ke Kampung Siboga dan disekitarnya. Hasil-hasil hutan maupun batu kuarsa yang berasal dari pulau Kalimantung sekitarnya telah masuk onan Siboga meskipun masih dalam skala kecil.

Dengan semakin ramainya lalu lintas perdagangan dikawasan pesisir Teluk Tapian Nauli, Inggris meningkatkan status Poncan Ketek menjadi pusat pemerintahan dan perdagangan. Kantor Keresidenant Inggris yang sebelumnya berada di Natal dipindahkan oleh Inggris ke Poncan Ketek (1798). Jabatan Keresidenant yang dijabat oleh Resident Graham diserahkan kepada Resident Jhon Prince pada tanggal 30 Juni 1801.

Sejak itu resmilah Poncan Ketek sebagai pusat pemerintahan dan perdagangan tempat berkedudukan Kantor Keresidenant dengan nama Keresidenant Tappanooly. Dengan demikian Inggris telah dapat menguasai kembali seluruh pos-pos Belanda termasuk yang berada di Padang.
Setelah Poncan Ketek dan kawasan pesisir Teluk Tapian Nauli dapat dikendalikan oleh Inggris, maka pada tahun 1805 Perkongsian Dagang Inggris (EIC) yang berkantor pusat di Padang membawa rombongan eks. pekerja (buruh) benteng “Fort York Marlbourgh” Bengkulu ke Poncan Ketek.
Kedatangan para pekerja (buruh) ke Poncan Ketek itu untuk dipekerjakan memperluas bandar laut dan fasilitas pergudangan milik Inggris. Mendirikan benteng-benteng pertahanan Inggris diseputar Poncan Ketek. Diantara rombongan yang datang itu, ada seorang bernama Abdul Muthalib yang ditugaskan sebagai Kepala Perwakilan Kongsi Dagang Inggris (EIC) di Poncan Ketek. Kedatangan Abdul Muthalib itu telah membawa berkah yang tidak ternilai bagi penduduk Poncan Ketek.

Abdul Muthalib dikenal bukan saja sebagai Kepala Perwakilan Kongsi Dagang Inggris (EIC) di Poncan Ketek, namun lebih dari itu beliau adalah seorang ulama. Abdul Muthalib bagi masyarakat pesisir Poncan Ketek adalah orang yang sangat santun, bertutur kata yang halus dan enak untuk didengarkan. Orangnya pintar dan pandai bergaul dengan siapa saja yang beliau jumpai dan tidak membeda-bedakan.
Dari sifat dan kepribadiannya itu Abdul Muthalib sangat cepat dikenal luas dikalangan penduduk yang bermukim dikawasan pesisir Teluk Tapian Nauli pada masa itu. Abdul Muthalib lebih dikenal oleh masyarakat pesisir Poncan Ketek dengan Datuk Itam. Oleh karena warna kulitnya yang hitam (keling) dari keturunan India Tamil.

Sepeninggal Sutan Mangaraja Lelo yang menjabat sebagai Datuk Poncan mangkat (1810), masyarakat pesisir Poncan Ketek melaksanakan musyawarah dan memilih Datuk Itam untuk mengisi jabatan Datuk Poncan. Masyarakat pesisir Poncan Ketek meyakini bahwa Datuk Itam adalah seorang tokoh pembaharuan masyarakat pesisir.

Datuk Itam telah banyak melakukan perubahan-perubahan yang mendasar dalam sistim sosial masyarakat pesisir Poncan Ketek. Meskipun beliau sebelumnya adalah orang asing yang berasal negeri Nagore India Selatan yang tinggal menetap di Poncan Ketek.
Jabatan Datuk Poncan yang diberikan oleh masyarakat pesisir Poncan Ketek kepada Datuk Itam itu mendapat apresiasi yang luar biasa dari Resident Tappanooly Jhon Prince. Sementara jabatannya sebagai Kepala Perwakilan Dagang Inggris (EIC) di Poncan Ketek tetap dipegangnya, hingga Pemerintah Kolonialisme Belanda menginjakkan kaki kembali dibumi Poncan Ketek (1825).

Setelah penobatan jabatan Datuk Poncan itu, masyarakat pesisir Poncan Ketek dibenahi kembali oleh Datuk Itam. Masyarakat pesisir Poncan Ketek mendapat perlindungan dan perlakuan yang sangat baik dari Datuk Pocan. Produksi garam yang dikelola oleh masyarakat pesisir yang ada dipulau Mursala terus meningkat setiap tahunnya. Demikian pula dengan hasil tangkapan ikan nelayan melimpah dari yang biasanya. Masyarakat pesisir Poncan Ketek hidup dalam kemakmuran dan kesejahteraan. Rakyatnya rukun dan damai serta mereka taat melaksanakan agamanya.

Salah satu keistimewaan Datuk Itam atau Datuk Poncan adalah sangat suka bergaul dan berbaur dengan masyarakat pribumi. Sambil berdagang beliau juga melakukan tugasnya sebagai pendakwah yang menyeru kepada kebaikan.Sehingga dikenal luas diseluruh kawasan pesisir Teluk Tapian Nauli.

Dengan cara-cara itu pula Datuk Itam atau Datuk Poncan banyak melakukan pendekatan dengan raja-raja dikawasan pesisir Teluk Tapian Nauli. Terutama sekali dengan Raja Sibolga Tuanku Dorong Hutagalung. Persahabatan diantara keduanya semakin terjalin erat yang dirajut oleh benang merah ikatan pernikahan diantara anak-anak keturunan dari mereka. (bersambung)