Dilaporkan pada kasus penggelapan bidik Misi Lusien : Ketua Pelaksana Bidik Misi adalah Henry Sinaga

04/10/2021 0 By Redaktur 2

Sibolga |Ketika ditemui di ruang kerjanya, Dr. Lucien Pahala Sitanggang dengan santai berhasil diwawancarai oleh wartawan kami. Menanggapi pemberitaan terkait dugaan penipuan dan penggelapan dana beasiswa Bidikmisi mahasiswa di STP Sibolga, Ketua STP Sibolga memberikan tanggapan bahwa dirinya tidak sepenuhnya bertanggung jawab atas hal itu. Bukan ingin menyalahkan pihak lain, namun public perlu mengetahui bahwa yang bertanggung bahkan sebagai ketua pelaksana adalah wakil ketua bidang kemahasiswaan yaitu Henry Sinaga.

“Sesuai dengan panduan bidikmisi tahun 2018 bahwa ketua pelaksana pengelolaan beasisiwa bidikmisi khusus untuk Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dilaksanakan oleh Pembantu Ketua Bidang Akademik/Kemahasiswaan. Maka sesuai SK nomor : SKEP.078/KEP/STPS/XII/2018 tentang penunjukan Ketua Pelaksana Pengelola Bidikmisi tahun ajaran 2018/2019 di lingkungan Sekolah Tinggi Perikanan Sibolga, memutuskan bahwa Ketua Pelaksana Bidikmisi di STP Sibolga adalah Henry Sinaga,” kata Lucien.

 

Beliau menambahkan bahwa pihaknya sangat menyayangkan jika kasus ini kembali diungkit. Padahal sudah sempat dimediasi dan diselesaikan.

 

“Sangat disayangkan proses hasil mediasi yang dilakukan oleh saudara Febriman Laowo, Septiman Zalukhu, dan Yarniati Gea kepada tokoh HIMNI dihadapan amang Praeses BNKP terkait pencabutan laporan/pengaduan di Polres Sibolga oleh LKBH Sumatera Parlaungan Silalahi, S.H pada tanggal 8 juli dianggap sepele. Kita takut proses hukum dapat berbalik kepada mahasiswa yang tidak taat pada aturan hukum dan diduga telah melakukan pelanggaran UU ITE.,” Katanya.

 

Ketika dikonfirmasi kepada Ketua STP Sibolga terkait pemberitaan yang telah disampaikan saudara Febriman, beliau hanya menyatakan biarkan anak-anak itu kembali belajar dan tidak berurusan dengan proses hukum. Propaganda pemberitaan akhirnya berdampak terhadap mutu akademik para mahasiswa khususnya anak-anak yang tidak berurusan sama sekali dengan bidikmisi. Beliau menengaskan, 15 tahun di STP dengan penuh perjuangan telah dibangun, silahkan pengurus Yayasan yang baru berjalan 3 tahun menciptakan inovasi untuk kemajuan STP Sibolga yang kita cintai. Mari kita dukung program-progran STP, khususnya melalui Yayasan untuk terus meningkatkan prestasi dan capaian penggunaan lulusan yang baik.

 

Selanjutnya terkait dengan ungkapan bahwa uang bidik misi disetor kepada Ibu Nenima Halawa dibantah oleh Laureny Harefa yang merupakan teman satu angkatan dengan Febriman (pelapor), bahwasanya dalam pengurusan bidikmisi tahun 2018, mereka tidak pernah bertemu dengan Ibu Nenima Halawa, karena beliau sedang studi lanjut di IPB Bogor. Hal itu kemudian ditegaskan oleh staf STP Sibolga yang kebetulan mencicipi Pendidikan di Pasca sarjana IPB.

 

“Bahwasanya mulai dari tahapan pendaftaran, verifikasi, pencairan khususnya Angkatan 2018, saya tidak pernah berurusan dengan mahasiswa bidikmisi dari awal sampai akhir karena pada saat itu saya sedang melanjutkan pendidikan. Saya sangat kecewa dan merasa dirugikan atas pernyataan Febriman dkk,” tegasnya.

 

Sekretaris alumni STP Sibolga sangat berharap para penerima bidikmisi bersyukur dan berterimakasih kepada STP Sibolga.

 

“Kita berharap mereka kembali belajar, karena seperti saudari Ester Tampubolon, Agnes Simanullang, dan Maulida Harahap yang saat ini telah berada di semester 9 dan sudah tidak lagi dikategorikan mahasiswa berprestasi. Kami mencurigai ada oknum yang ikut memprovokasi mahasiswa di STP Sibolga karena kami sudah mendapat laporan bahwa ada 13 mahasiswa yang diberikan surat peringatan oleh Irnawati Sinaga. Penerima surat peringatan ini adalah mereka yang telah bersaksi di kantor polisi dan telah menyatakan kebenaran bahwa mereka telah menikmati bidikmisi di STP Sibolga. Jika kita melihat pemberitaan media yang begitu agresif dilakukan Bangun Sinaga sebagai salah satu staf STP Sibolga yang merupakan adik dari Henry Sinaga dan Irnawati Sinaga, proses hukum ini seolah-olah adalah cipta kondisi untuk menjatuhkan marwah dari Ketua STP Sibolga,” kata Arwan Laoly salah satu pengurus Alumni

 

Dia menambahkan bahwa pihaknya sangat menyayangkan, lebih dari setengah staf yang ada di STP Sibolga mengundurkan diri hanya karena pelaporan mahasiswa.

 

“Perkembangan STP ditangan bapak Dr. Lucien Sitanggang menuju akrediras B hanya tinggal selangkah lagi, namun dengan keluarnya Penjamin Mutu, Ketua Program Studi, Operator, Sekretaris Prodi, dan Kepala Laboratorium membuktikan bahwa Yayasan tidak mampu mengakomodir permasalahan ini kearah yang lebih baik. Kami berharap pak Lucien Sitanggnag tidak hanya diam, tapi harus bisa memberikan penjelasan terkait pembodohan yang telah dilakukan pada publik. Pesan kami kepada pihak kepolisian agar tidak diinterpensi oleh kepentingan kepentingan oknum yang tidak bertanggungjawab dan mempengaruhi kemajuan STP Sibolga,” katanya.

 

Ditambahkan oleh Penjamin Mutu Internal STP Sibolga Melikaries Silaban, bahwa sebagian besar mahasiswa penerima bidik misi sangat mensyukuri dan menikmati dana beasiswa Bidikmisi yang mereka terima.

 

“Dari 41 anak yang menerima bidikmisi coba dibuktikan siapa yang belum pernah menerima uang bidikmisi dalam bentuk pendanaan kegiatan akademiknya. Septiman zalukhu baru saja pulang dari Karawang Jawa Barat bisa menikmati tiket pesawat, uang PKL, sampai pendanaan seminar dan sidang dari uang bidikmisinya. Sementara 31 mahasiswa penerima bidikmisi sudah sangat mensyukuri uang yang telah diberikan pemerintah dan sangat menyesalkan beberapa teman mereka yang terprovokasi oleh oknum untuk menjatuhkan Ketua STP. Selaku Penjamin Mutu Internal, saya juga menyayangkan Tindakan Pembina Yayasan yang menunjukkan Surat Pemecatan Ketua STP terlebih dahulu kepada Nurintan Siregar bukan Kepada Ketua STP, dan membuat surat tertanggal mundur untuk melengkapi berkas ke LLDikti I Sumatera Utara. Selaku Penjamin Mutu Internal yang memiliki kewenangan menjaga mutu di STP Sibolga, sangat menyayangkan turunnya mutu akademik STP hanya karena kepentingan oknum yang suatu saat akan terjawab oleh publik. Mahasiswa tidak lagi menjalankan mekanisme akademik sesuai kurikulum KKNI yang sudah disusun oleh Tim, sebagai contoh awal semester ini mahasiswa menjalankan Praktik Kerja Lapangan yang seogiyanya dilaksanakan disemester 6. Saya sangat berharap masukan yang diberikan kepada pemimpin STP Sibolga adalah masukan yang membawa kebaikan demi kemajuan STP Sibolga “ kata Meli.

(Petrus)